Kaya dengan Memahami Nilai-Nilai Islam Secara Kaffah

Posted: April 24, 2012 in Pesan Sosial
Tag:, , , , ,

Allah SWT Menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan mengikat tali silaturrahmi diantara mereka. Perbedaan bahasa, budaya, jumlah harta hingga status jabatan memang kerap menimbulkan gejolak sosial di mana-mana. Namun pada hakikatnya disitulah kesempatan kita untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Coba kita bayangkan? Apa jadinya dunia bila hanya diisi oleh orang-orang kaya, mungkin tidak akan ada kesempatan bagi manusia untuk berbagi lewat sedekah, atau bila semua orang di dunia ini adalah orang yang pintar maka tidak akan ada guru yang bisa menjadi panutan. Semua perbedaan sudah digariskan oleh Sang Maha dengan segala hikmahNya. Yang perlu manusia sadari hanyalah bagaimana menjalani perannya masing-masing di dunia dengan sebaik-baiknya. Termasuk dalam menghadapi masalah klasik kehidupan yaitu kemiskinan.

Kemiskinan adalah bagian dari hidup manusia, ia ibarat mata rantai kehidupan yang selalu beregenerasi disetiap zaman. Setiap hari, atau bahkan setiap detik seorang bayi dilahirkan kedunia ini, dan tiap-tiap jiwa itu tidak peduli ia hitam, putih atau orang tuanya miskin ataupun kaya, masing-masing punya kesempatan yang sama apakah hidupnya akan sejahtera atau nelangsa, tergantung orang tua dan lingkungan yang akan mendidiknya. Karena sesungguhnya manusia tidak pernah mengetahui takdir dan kehendak Tuhan yang memang sarat hikmah tentang tujuan. Baik tujuan pembelajaran atau sekedar peringatan. Itulah hikmahnya manusia diciptakan dengan kodrat kelemahan, dalam ِal-Qur’an disebutkan “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”(Ar-Ruum:54)

Oleh karena itu Islam datang kepada umat manusia dengan misi untuk menyelamatkan, maka setiap muslim yang masuk Islam secara Kaaffah, tentu ia akan selamat. Namun, sudahkah kita masuk dan mengenal Islam seutuhnya (kaaffah)? Banyak sekali nilai-nilai positif yang Islam ajarkan kepada umatnya seperti syukur, sabar, rahmat hingga tawakkal yang mungkin sangat sering diperdengarkan dalam ceramah-ceramah di masjid ataupun pelajaran agama di sekolah. Namun sangat sedikit kaum muslim yang mau dan mampu untuk memahaminya, sehingga ketika dihadapkan pada masalah nyata di kehidupan sehari-hari ia tetap bingung dan selalu bertanya kepada hatinya, kemana ia harus mengadu?

Adukanlah segala keluh kesah kepada Allah SWT, gantungkanlah segala harapan dan cita-cita hanya kepadaNya. Bukan kepada urusan duniawi yang fana. Maka sangat aneh bila kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dikatakan bisa menyebabkan kemiskinan, atau harga BBM yang murah bisa menciptakan kesejahteraan. Apakah hidup kita ditentukan oleh BBM? Masa depan adalah misteri, dan di masa kinilah kita membangun harapan. Mau tidak mau, suka tidak suka, hendaknya kita menyadari bahwa sumber daya alam, apapun bentuknya adalah sesuatu yang fana, yang kelak juga akan habis masanya di dunia. Sama seperti umur manusia. Maka dari itu miskin atau kaya, usaha manusialah yang menentukan, ia adalah pilihan yang ditentukan dari seberapa besar usaha dan ikhtiar kita untuk meraih ridhoNya. “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya)” (An-Najm: 39 – 40)

Sesungguhnya Allah SWT menganugrahkan akal kepada manusia untuk selalu bertafakkur, memikirkan kebesaranNya untuk kemudian mampu mengoptimalkan semua yang ada di muka Bumi dengan sebaik-baiknya. Itulah peran ideal manusia sebagai khalifah di dunia ini. Kalau Bumi diibaratkan sebuah perusahaan, maka manusia adalah mahluk kepercayaan Tuhan untuk bisa menjadi managernya. Maka dari itu manusia dianugrahi akal dan nafsu untuk bisa saling melengkapi dan menciptakan kesimbangan. Dengan mengikuti panduan yang diberikan olehNya, insyaAllah “perusahaan” Bumi ini akan berjalan dengan sebaik-baiknya.

Tidak semua keinginan manusia itu yang terbaik, karena ia diciptakan dengan ego pribadi dan latar belakang yang beragam, sehingga akan banyak menciptakan benturan perbedaan dan kepentingan. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya percaya dan yakin bahwa apa yang  dimilikinya sekarang adalah apa yang benar-benar ia butuhkan dan sesuai dengan kehidupannya sekarang, karena kebahagiaan tidak lahir dari pencapaian atas apa yang diinginkan, tapi dari kesyukuran atas apa yang didapatkan. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk kita, manusia hanya berusaha, namun hasilnya adalah kekuasaan yang Maha Kuasa. Itulah wujud Iman yang dipancarkan lewat rasa syukur terhadap rizqiNya. Dan Allahpun telah berjanji dalam KitabNya, “Apabila kamu bersyukur atas nikmatKu, Niscaya akan Kutambah nikmat itu, namun bila kamu kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya azabKu sangatlah pedih”(Ibrahim: 7)

Begitulah arti syukur yang sebenarnya, ia bisa membuka pintu kekayaan yang selama ini tertutup bagi kita. Karena saat kita bersyukur hati kita akan selalu menjadi kaya, lapang dada dan jauh dari kegelisahan. Sehingga manusia bisa berpikir logis dan positif, tentang bagaimana berusaha dan mengoptimalkan setiap anugrah yang Allah berikan kepadanya. Bukankah kekayaan hati sangat mahal harganya, maka alangkah baiknya kalau kekayaan kita didunia ini diawali dari kekayaan jiwa. Karena berapa banyak orang kaya harta, malah jiwanya jauh dari rasa bahagia. Itulah kodrat manusia, ia tak akan pernah lepas dari agama. Karena agama adalah kebutuhan rohani yang selalu melekat sejak ia dilahirkan di dunia.

Dalam hubungan hablumminannas, Islam telah mengajarkan umatNya yang mampu untuk mengeluarkan zakat. Secara bahasa zakat berarti suci, dan yang disucikan disini adalah harta yang kita miliki. Karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu, kala ia mencari rizki ada terselip dosa yang tidak disadari baik dari perkataan maupun perbuatan yang membuat diri atau orang lain menjadi terdzolimi. Itulah fungsi zakat, selain bisa mensucikan harta, ia juga mampu membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Karena secara logika praktek ekonomi tidak akan pernah lepas dari untung dan rugi, maka alangkah indahnya bila disaat seorang muslim dalam posisi menguntungkan, rela memberikan sebagian rizqinya kepada saudaranya yang sedang mengalami kerugian. Itulah indahnya berbagi dalam Islam, ia mampu terus menjaga pasar agar tetap dalam posisi keseimbangan.

Harta dalam Islam adalah harta yang bergerak artinya harta itu harus terus berputar, baik disalurkan untuk kepentingan usaha atau belanja kehidupan sehari hari. Namun bila harta itu diam maka ia akan dikenakan zakat, karena ia akan terkena batas haul yang sudah ditentukan oleh agama. Maka dari itu, Modal akan lahir dari peningkatan kuantitas dagang dan percepatan perputaran uang. Inilah sedikit hikmah dari isyarat yang Allah tuliskan dalam kitab suciNya yang berbunyi:”Harta itu janganlah hendaknya beredar di kalangan orang-orang kaya saja di antara kamu sekalian. (QS. Al-Hasyr; 7).

             Begitulah sebenarnya Islam mengajarkan umatnya tentang praktek ekonomi, yang kemudian dijabarkan lebih lanjut melalui teladan Rasulullah dimasa pemerintahannya. Dan itu senua, tentu akan sulit dipahami bila seorang muslim belum mengerti Islam secara Kaaffah. Karena pribadi muslim sejati adalah pribadi yang kuat, yang hanya mau bergantung pada Dzat yang Maha Kuat juga, bukan pada hal duniawi yang sifatnya sementara. Dari sinilah sebenarnya esensi tawakkal bisa dipahami, saat seseorang sudah bekerja semaksimal mungkin, namun belum juga menemui hasilnya, lalu ia merasa lemah, kemudian ia berserah diri kepadaNya.

Ketahuilah, bahwa setiap masalah yang tidak bisa kita selesaikan sendiri adalah kesempatan yang luar biasa untuk kembali mengingatNya, menyadari bawa kemampuan manusia itu ada batasnya, maka ia akan mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang pantas untuk menyombongkan diri di dunia. Seseorang tak akan bisa memandang seluruh dunia, pandangannya selalu terbatas pada ciptaan Tuhan yang lainnya, rasa itulah yang kelak akan membuka satu pintu rizki lainnya yaitu silaturrahmi. Bukankah dalam hadits dikatakan, Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Islam itu rahmatan lil ’alamin, zaman boleh berubah, tapi ajaran Islam tetap sama dan relevan untuk semua masa. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, bila seorang muslim mau kembali dan bertadabbur terhadap nilai-nilai yang diajarkannya. Termasuk masalah kemiskinan. Memperkaya hati dengan syukur, lalu berusaha dan bekerja dengan diiringi rasa tawakkal. Selalu melapangkan hati dan saling menghargai dengan mempererat tali silaturrahmi. Adalah beberapa modal yang Islam tawarkan untuk meraih kesejahteraan di dunia. Yang perlu kita lakukan hanya memperkuat iman, karena iman adalah percaya, dan rasa percaya itulah yang akan menumbuhkan keyakinan bahwa setiap yang Allah dan Rosulnya ajarkan merupakan solusi nyata dalam kehidupan. Manusia tak akan pernah bisa merasa kaya, bila dari awal hatinya masih miskin dari ridhoNya. Begitulah Islam yang Kaaffah, karena mungkin saja kegalauan kita saat ini disebabkan oleh keislaman kita yang masih setengah-setengah.

Perbedaan adalah rahmat. Karena manusia memang diciptakan dengan spesialisasi yang berbeda-beda untuk kemudian bisa saling melengkapi diantara mereka. Tidak ada kebutuhan manusia di dunia ini yang mampu dipenuhi tanpa bantuan orang lain, dari bantal yang kita pakai untuk tidur hingga sesuap nasi yang kita makan setiap hari. Ada ekosistem Tuhan yang menciptakan keseimbangan. Maka dari itu, saat kita merasa mampu berbagilah, berbagilah lewat apa yang kita punya, baik ilmu ataupun harta. Karena hidup itu bagaikan roda, yang tidak pernah ada yang tahu sampai kapan kita berada diatasnya. Oleh sebab itu bila semua kaum muslim yang mampu bisa mengoptimalkan fungsi zakat dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kemiskinan akan tertanggulangi, walaupun perputaran roda waktu kerap melahirkan kemiskinan-kemiskinan baru, anggaplah itu cobaaan untuk meningkatkan iman bagi mereka yang mengalami, dan kesempatan bagi kaum mampu lama maupun baru untuk beramal dan terus berbagi. Allah Maha pemberi hikmah, dan seorang muslim baru akan mengerti makna hikmah tersebut bila ia mendekatkan diri kepadaNya, lalu menjalankan peran yang diberikan kepadanya dengan penuh rasa syukur mengharapkan keridhoaanNya.

Komentar
  1. […] itulah doa dalam keberkahan, itulah hikmah dalam persaudaraan, atau bahkan itulah ganjaran dari keikhlasan,….oh tuhan kapan kemuliaan itu bisa kembali kudapatkan, lumuran nafsu ini telah melalaikan, aku […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s