Aku takut Wahai Diamku…

Posted: April 16, 2012 in Muhasabah Hati

Aku takut, aku takut untuk memulai, aku takut untuk menyalurkan hobiku dan meraih kesuksesan bersamanya, aku tak tahu darimana rasa ini datangnya, mungkin inilah kelemahan hati yang harus kuakui. Ia begitu menyiksa dan membuatku terus menunda. Kalau saja penderitaan ini tidak ada, mungkin peruatan ini tak akan kulakukan. Aku melakukan hobiku dengan keterpaksaan, aku lebih suka terlena dan menjadi yang biasa saja. Padahal dari berbagai penampilan dan pengalaman banyak orang menyebutku sebagai insane yang luar biasa dan punya potensi yang berbeda. Aku merasakannya tapi kenapa aku tak bisa mewujudkannya.

Pergolakan rasa, tipu daya dunia, hingga sifat manusiawipun kerap menjadi alasan. Tapi sampai kapan?? Sampai kapan ia hanya bisa tertegun melihat kesuksesan orang-orang, sampai kapan kita akan tertidur dalam kenikmatan pembicaraan orang-orang, sampai kapan kita bisa memiliki diri kita yang mandiri. Dulu saat asa ini berbicara tentang cita, begitu banyak harapan dan keinginan yang harus diwujudkan. Bayangan akan keindahanpun menyeruak, membuat pikiran ini tertidur pada impian-impian kelam. Namun saat terbangun, ia baru menyadari kenyataan. Itu Cuma halusinasi, ia bahkan hanya bisa makan sekali sehari, ironis memang. Dengan ratusan pengalaman dan penghargaan, namun ujungnya masih harus terus meminta. Dimana kesejatian yang selama ini kau agungkan.

Malulah, mandirilah, tahun2 ini adalah tahun pemebelajaran. Memang terlalu banyak kesalahan, tapi kau tak harus terus lari dari kenyataan. Hadapi booiii !!!, berhenti mengeluh, berhenti mengahrapkan fasilitas, semua perubahan dimulai dari gerakmu, bergeraklah, apapun hasilnya. Sudah lama aku jadi teman penasihatmu, dikala duka maupun suka, aq berusaha selalu ada. Kadang kita berdiskusi bersama, melantunkan semangat jiwa, membuat sebuah rencana hingga akhirnya kau bisa!! Tapi kenapa belakangan ini kau malah melupakanku.

Aku adalah diammu, saat pengetahuan dan pengalaman bercampur menjadi satu dan berpadu dalam mangkok hati yang membumbuinya dengan cinta dan agama. Disitulah aku ada, aku adalah sadarmu yang tak pernah bosan untuk mengingatkan akan khilafmu. Saat kau menulis inipun kau sedang berdiskusi denganku, saat kau menulis inilah kau mampu mengungkapkan kebenaran dalam isi hatimu, ia adalah ungkapan. Ungkapan yang akan melupakan beban, berhentilah pada asa dunia, berpikirlah tentang kebenaran dan kebaikan. Berhenti untuk bilang bahwa kau tak mampu, karena tak ada yang mampu merubahmu kecuali dirimu sendiri. Kau punya segala syarat untuk menajdi apa-apa yang kau inginkan, yang perlu kau lakukan adalah berusaha, bukan berhenti dan bergumam “ah, nanti saja”. Ingat umurmu tak lagi muda, dan sangat tidak relevan bila kau masih beralasan “menikmati masa muda”. Karena kenikmatan itu tak bisa didapat lagi dengan cara yang sama. Camkan itu !!!

Menulislah ragaku, menulislah nafsuku, menulislah akalku……..

Biarkan hati membimbingmu kejalan ridhoNyaa……..

Komentar
  1. […] tetap merasa bosan, seakan ada ketakutan, takut akan kesuksesan yang siap menjadi kenyataan. (Baca: Aku takut Wahai DIamku) namun tak disangka ternyata Tuhan membukakan jalan, ada adik sepupuku yang pengen masuk pondok dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s