Industri Kreatif Islami; Peluang Investasi dan Prospek Perkembangan

Posted: April 12, 2012 in Riset Ilmiah

A.Pendahuluan

Investasi adalah  suatu  istilah dengan  beberapa pengertian  yang  berhubungan  dengan  keuangan  dan  ekonomi.  Istilah  tersebut  berkaitan  dengan  akumulasi  suatu  bentuk  aktiva  dengan  suatu  harapan  mendapatkan  keuntungan  dimasa  depan.  Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal. Memperbincangkan ranah  investasi berbasis  tata aturan Islami dalam konteks  kekinian,  maka  banyak  wacana  menarik  untuk  didiskusikan  guna  mematangkan  konsep yang telah ada dan masih terkesan utopis, memetakan kinerja  investasi Islami  Indonesia  di  peta  perinvestasian  dunia  ataupun  kenyataan  paradoks  yang  mungkin  banyak  ditemui  dibidang  pemanaman  modal  syari’ah  ini.  Dalam  hal  ini  tentu,  investasi  Islami  merupakan  suatu  aktivitas  ethic  and  profit   yang  luas  untuk  didiskusikan  dan  dideskripsikan,  terlebih  bila  dikaitkan  dengan  janji  Allah  SWT  dalam QS. Nuh ayat10-12, QS. An-Nahl ayat 112, QS.Al-Araaf ayat 96.

Investasi Islami sebagai wacana dinamis selama ini memiliki tingkat kesulitan  yang tinggi guna dianalisis dan dicermati. Hal  ini sebenarnya  lebih disebabkan masih  kurangnya  berbagai  sumber  daya  insani,  literatur  dan  masih  lemahnya  sumber  informasi  sekunder  dari  lembaga  yang  berkompeten  dalam  mengupdate  berbagai  perkembangan  yang  dibutuhkan  oleh  kalangan  praktisi,  pelajar  dan  masyarakat  umum.  Makalah  ini  akan  mendeskripsikan  secara  terbatas  sisi  empirik  mengenai  wacana  investasi  industri  kreatif  secara  Islami  dalam  berbagai  praktik  dan  perkembangannya,  wacana  makro  investasi  Islami  Indonesia  dan  kondisi  investasi  Islami dunia khususnya dunia industri kreatif.

B. Pembahasan

B.1. What is the mean of Islamic Investment?

Berdasarkan  teori  ekonomi,  investasi  berarti  pembelian  (dan  berarti  juga  produksi) dari modal (capital)  barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan  untuk  produksi  yang  akan  datang  (barang  produksi).  Dalam  perspektif  ekonomi  praktis Jhon Downes & Jordan E Goodman (1999:267) menyebutkan bahwa investasi  merupakan  penggunaan  modal  untuk  meciptakan  uang,  baik  melalui  sarana  yang  menghasilkan pendapatan maupun melalui ventura[6] yang lebih berorientasi ke risiko  yang  dirancang  untuk  mendapatkan  perolehan  modal.  Dalam  konteks  pasar  modal  perusahaan  dapat  memilih  suatu  bentuk  investasi  keuangan  (dimana  biasanya  emiten[7] menempatkan uang kepada investor) atau menunjuk ke investasi usaha atau  waktu  seseorang  yang  ingin  memetik  keuntungan  dari  keberhasilan  pekerjaanya.

Sedangkan  perspektif  hukum  Islam  lebih  menekankan  bagaimana  investasi  tersebut bebas dari riba, tadlis, gharar (membabi-buta) dan haram baik dalam bentuk  komoditi  (dzatiyyah),  kontrak  (akad)  maupun  prosesnya  sehingga  membentuk  tanggungjawab  dunia  hingga  akhirat.  Pada  umumnya  investasi  dibedakan  menjadi  dua, yaitu: investasi pada financial asset dan investasi pada real asset (Huda, 2007:8).

Namun  yang  kita  bahas  dalam makalah  ini  hanya  terbatas  pada  investasi  pada  real  asset terutama yang berkenaan dengan industri kreatif.

 B.2. Industri kreatif

Istilah  Industri  kreatif  pertama  kali  digunakan  oleh  partai  buruh  di Australia  tahun  1997.  namuan  perekemabngannya  pertama  kali  disorot  oleh  inggris  dimana  saaat itu industri kreatif menyumbang sekitar 8,2 % dari total pendapatan negara.  Secara  definisi  industri  keratif  adalah  industri  yang  unsur  utamanya  adalah  kreativitas, keahlian dan  talenta yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui  penawaran  kreasi  intelektual.  Industri  kreatif  terdiri  dari  penyediaan  produk  kraetif  langsung  kepada  pelanggan  dan  pendukung  pendiptaan  nilai  kratif  pada  sektor  lain  secara tidakm langsung berhubungan dengan pelanggan. Ciri-ciri prodak kratif adalah   3  siklus  hidup  yang  singkat,  resiko  tinggi, matgin  yang  tinggi,  keanekaragaman  yang  tinggi,  persaingan  yang  tinggi,  dan  mudah  ditiru.  Secara  bagan  dapat  dilihat  dari  gambar dibawah ini:

INDUSTRI  kreatif  di  Indonesia  merupakan  industri  baru  yang  berlandaskan  inovasi  dan  kreativitas  sehingga  memaksa  produsen  dalam  industri  ini  untuk  terus  berinovasi  dalam  mengembangkan  produk  ataupun  jasanya.  Era  krisis  keuangan  global  yang  terjadi  saat  ini merupakan  salah  satu  penyebab  perlu  dikembangkannya  industri kreatif ini secara serius.

Industri kreatif merupakan cerminan  industri dari usaha kecil dan menengah.  Kota  Bandung  dan  Kota  Yogyakarta  merupakan  salah  satu  kota  yang  mengawali  industri  kreatif  ini, melalui  inovasi  yang  dilakukan  anak-anak muda  yang memiliki  bakat  seni  yang  kemudian  disalurkan menjadi  industri-industri  dalam  negeri  hingga  bisa mencapai pasaran dalam bahkan luar negeri.

Sebutlah  usaha  distro  (distribution  outlet)  dan  clothing  yang marak  di  Kota  Bandung,  yang  dirintis  oleh  pengusaha-pengusaha  muda.  Perhatian  pemerintah  terhadap  industri  ini  terbilang  sangat  kecil  dibandingkan  dengan  perusahaan  multikorporat. Kebijakan  yang  tidak  berpihak  terhadap  pengusaha-pengusaha muda  ini  tidak  diikutkan  dengan  pembuatan  regulasi  yang  menguntungkan  bagi  mereka.

Penguatan-penguatan  distribusi  akhirnya  kembali  dipegang  oleh  perusahaan-  4  perusahaan  besar  yang  justru  memberangus  semangat  kreatif  pengusaha  muda  tersebut.

 B.3. Analisis Investasi dalam Industri Kreatif

Industri  kreatif  adalah  jenis  industri  yang  tidak  dapat  dikategorikan  secara  konvensional  dengan  ukuran-ukuran  ekonomis  yang  konvensional  pula.  Misalnya,  pada  investasi zona kuliner Galabo, secara real hanyalah berupa konsep zona kuliner  yang  tidak melibatkan unsur  fisik sama sekali. Ya, hanya konsep dan privillege yang  dimiliki pemerintah  setempat  yang kemudian dikerjasamakan dengan pemilik modal  yang keuntungannya dishare antara pemerintah daerah dengan penanam modal. Tentu berbeda  jauh dengan konsep penanaman modal di bidang pemerintahan  yang konvensional yang umumnya melibatkan aset pemerintah yang dikerjasamakan,  baik dalam bentuk sewa, build operate transfer (BOT), kerjasama operasional (KSO)  dan sebagainya. Konsep-konsep kerjasama  tersebut sudah “tidak musim”, mengingat

proses  panjangnya  yang  harus  melibatkan  pihak  legislatif  dan  tentu  saja  rawan   5  penyimpangan,  bahkan  tidak  jarang  melibatkan  “biaya-biaya  siluman”  yang  lebih  banyak merugikan investor daripada menguntungkan investor.

Konsep  industri  kreatif  yang  berhasil  diterapkan  Tomohon  misalnya,  tidak  melibatkan satu aset pemerintah pun, sehingga kepentingan-kepentingan sempit yang  sarat  membungkus  proses  investasipun  bisa  diminimalisir.  Di  samping  itu,  proses  penanaman  modal  konvensional  yang  harus  melewati  proses  lelang  layaknya  pengadaan  barang/  jasa  pemerintah  dapat  lebih  diefisienkan,  bagaimana  tidak,  jenis

industri  yang  hanya  berupa  konsep,  ide  dan  privillege, meskipun  harus melewatkan  mekanisme pengumuman pelelangan,  tetap  saja  sulit diterjemahkan oleh perusahaan  investasi yang sekedar berlevel “broker”, karena  seperti halnya  jenis pengadaan  jasa  konsultansi, maka beauty contest, usulan teknis benar-benar dapat “memeras” peminat  lelang  hanya  pada  pelaku  investasi  yang  tidak  hanya  siap  dana,  namun  juga  siap  konsep. Dengan kata  lain,  faktor kesulitan dan kerumitan pada  industri kreatif  telah

menciptakan mekanisme  “seleksi  alam”  tersendiri  yang  akhirnya  hanya menyisakan  yang terbaik bagi peluang investasi pemerintah daerah.

Melihat  banyaknya  pemerintah  daerah  yang  berhasil  serta  mendapat  penghargaan atas keberaniannya mengembangkan  industri kreatif  sebagai primadona  investasi  yang mampu memobilisasi  dana  publik  sebagai  alternatif  lain  pembiayaan  pembangunan daerah serta penciptaan  lapangan kerja baru, nampaknya di masa yang  akan datang pemerintah daerah harus mulai mengalihkan prioritas  investasinya pada jenis industri ini. Untuk kota Semarang misalnya, pada perhelatan Semarang Business  Forum  (Sembiz)  2009  coba  dijajaki  fasilitasi  pada  proyek  pengembangan  piranti  lunak business machine yang berbasis teknologi informasi komunikasi untuk memberi  wadah  komunikasi  interaktif, wadah  promosi  dan  juga wadah  transaksi  bisnis  yang  dilakukan di dunia maya secara cepat dan on line.

Gejala  ini  bukannya  tanpa  dampak,  karena  seperti  umumnya  investasi  konvensional  upaya  ini  harus  diinterkoneksi  pula  dengan  lingkungan  strategis  yang  dimiliki  masing-masing  daerah.  Solo  misalnya,  saat  mewujudkan  Galabo  membutuhkan 60 kali pertemuan agar zona kuliner tradisional yang dimaksud benar- benar dapat menjadi  ikon  industri baru Solo,  tidak sekedar menempel  layaknya kain  perca  yang  akan  mengganggu  planologi  kota.  Interkoneksi  dengan  lingkungan  strategis  juga  diharapkan  dapat  menciptakan  investasi  yang  sustainable  dan  self  developed  dengan  intervensi  pemerintah  yang minimal  dan  pencemaran  lingkungan  yang minimal pula.

Akhirnya, apapun yang bisa menggerakkan perekonomian, baik sektor formal  maupun informal memang “worth to try”, apalagi dengan ekses negatif yang minimal  dan  integritas yang  tinggi. Mungkinkah  ini merupakan “new breed” dari  investasi di  era  informasi, era  ide dan era konsep yang menafikan konsep ruang dan waktu yang  sudah santa banal. Poor some water on it and seet it react!

Hambatan

Hambatan industri kreatif ini bukan hanya datang dari bentuk kebijakan, tetapi  juga  dari  para  pengusaha  itu  sendiri.  Mereka  dinilai  belum  memiliki  mental  entrepreneur  yang  profesional,  seperti  tata  kelola  keuangan  yang  masih  menyatu dengan  kebutuhan  harian  kemudian  manajemen  kepegawaian  yang  berdasarkan  prinsip  pertemanan  tanpa  adanya  koridor  hukum  yang  jelas  dalam  mengatur  kepemilikan  dan  pembagian  untung,  sehingga  ketika  terjadi  pecah  usaha,  industri  tersebut  akan  mati  seiring  dengan  pecahnya  usaha  tersebut.  Usaha-usaha  yang  dilakukan para entrepreneur muda  ini  harus dilandasi  juga dengan mental  yang kuat  dengan motivasi memajukan usaha yang dirintis dari awal.

Pemberian  pelatihan  melalui  pelatihan  industri  kreatif  perlu  digalakkan  pemerintah  dan  dunia  pendidikan  seperti  universitas.  Bentuk  pelatihan  berupa  pelatihan keterampilan dan manajemen perusahaan profesional  sangat penting untuk  mempertahankan kondisi pengusaha-pengusaha di  industri kreatif. Perlu dibentuknya  asosiasi  pengusaha  industri  kreatif  untuk  memperkuat  usaha  ini  sebagai  salah  satu  bentuk  usaha  baru  yang menekankan  kepada  inovasi  dan  kreativitas  pengusahanya.

Industri  kreatif  berbasiskan  seni  yang memang  dimiliki masyarakat muda  Indonesia merupakan  suatu  bentuk  inovasi  baru  di  saat  terengah-engahnya  industri-industri  besar  di  Indonesia  saat  ini. Hambatan  yang  didapat  dalam  keberlangsungan  industri  kreatif ini antara lainnya ialah pemerintah belum memandang serius industri kreatif di  Indonesia sebagai industri yang berpotensi mendatangkan devisa untuk Indonesia.

Kebijakan  terintegrasi  yang  harus  dibuat  antara  lain  melindungi  kreativitas  anak-anak  muda  Indonesia  ini  dengan  memberi  kemudahan  untuk  mendaftarkan  kreativitasnya  sebagai  hak  cipta  yang  kelak  boleh  dipasarkan  secara  massal.  Kebijakan  terintegrasi  ini bukan hanya untuk sektor manufaktur kecil dan menengah seperti distro dan clothing, tetapi juga sektor industri musik indie dan juga sektor seni  murni seperti  lukisan, handycraft,  industri kreatif berbasiskan  lingkungan seperti seni  merangkai  barang-barang  bekas,  dan  industri  lain  yang memiliki  basis  inovasi  dan  kreativitas.

 Solusinya…….

Kebijakan  berbasis  industri usaha kecil dan menengah  ini memerlukan pasar  yang besar di dalam dan luar negeri. Industri kreatif di Bandung perlu dijadikan salah  satu tren wisata Visit Indonesia 2009. Kebijakan  ini dimulai dengan membentuk satu  dewan atau lembaga, atau apa pun namanya, yang bisa mewadahi industri-industri ini  terutama  pemberian  bantuan-bantuan  dalam  memasarkan  produk  dan  jasanya  ke  dalam  dan  luar  negeri.  Perlindungan  hukum  berupa  hak  cipta  juga  penting  karena  beberapa  industri  kreatif  Indonesia  sering  diserobot  negara  lain  bahkan  diklaim  sebagai  industri  mereka.  Pemberian  kemudahan  infrastruktur  dapat  berupa  bantuan  mesin-mesin atau alat-alat  industri kreatif, sedangkan pemberian  insentif berbasiskan bantuan  modal  usaha  atau  pemberian  pelatihan  keterampilan  yang  berkelanjutan(sustainable).

Integrasi  beberapa  komponen  industri  kreatif  juga merupakan  aspek  penting  dalam  perolehan  hasil  kreativitas  yang  betul-betul  baru  dan  belum  ada  di  dunia.  Sebagai contoh, band indie di Indonesia yang dilandasi dengan semangat membangun  industri musik  tanah  air.  Industri musik  ini menjadi  salah  satu  bentuk  industri  yang  jarang diperhatikan oleh pemerintah daerah. Pemerintah  daerah  bisa memulai  dengan  pendataan  potensi  band  atau  studio  musik  yang menjamur di Bandung dan  Jawa Barat, hingga kemudian menjadi  salah satu  industri  yang  benar-benar  besar.  Kebijakan  lainnya  ialah  dengan  membangun  suatu  pasar  seni  yang  bisa  menampung  aspirasi  kaum  muda  untuk  memasarkan  produk dan  jasanya. Pasar seni  ini di negara-negara maju merupakan salah satu pasar  yang  bisa  menampung  produk-produk  industri  kreatif.  Sebagai  contoh,  di  Kuala  Lumpur ada satu pasar seni yang memang  tujuannya meningkatkan  industri  tanah air  mereka,  walaupun  tak  pelak  lagi  di  dalamnya  penuh  barang  industri  kreatif  dari Indonesia.

 C. Penutup

Kreatifitas  adalah  hal  yang  dianjurkan  dalam  islam  karena  ia  merupakan  cermin  manusia yang berpikir dan mesyukuri nikmat akalnya. Nmaun  ia juga sarat tantangan dan hamabatan maka dari itu peran serta pemerintah juga hasus ada sebagai amir yang  mampu mengayomi kesejahteraan rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s