Sebuah Purnama untuk “Tanda Tanya”

Posted: Maret 1, 2012 in Pesan Sosial
Tag:, , , , , ,

Malam bulan purnama, bahkan awanpun tak sanggup menutupi ronanya. Angin bersama awan bak penjaja keramaian dikesunyian malam. Dan aku pun mulai berpikir tentang bintang, kemanakah mereka? Kenapa ia tak bisa bersanding dengan indahnya cahaya bulan, padahal mereka adalah petunjuk di balik gelapnya malam, acuan takdir bagi paranormal, dan alat hitung bagi orang-orang yang sedang kasmaran. Hmm………

Jadi Teringat akan kisahnya Ibrahim AS, yang sedang mencari tuhan. Pencariannya dimulai dari renungan dibawah terangnya cahya bulan, yang kemudian dikalahkan oleh teriknya cahaya matahari lalu diragukan kembali oleh cahaya bintang-bintang. Dan saat cahaya itu hilang, timbullah Tanya tentang keraguan, oh tuhaan…. Berikan aku petunjuk tentang kerinduan. Saat olimpiade Temilnas dulu, ada suatu pertanyaan klise, “dimanakah tuhan?” Terdapat pilihan berganda untuk jawabannya, Tuhan ada dimana-mana, tuhan ada di singgasana arsy, tuhan ada dihati kita, atau semua jawaban benar. Saat itu aku berpikir semua jawaban tidak ada yang salah karena sangat tergantung dari preferensi dan kondisi hambaNya. Bila kita tersesat ditengah hutan, mungkin seorang muslim yang sholeh akan bergumam, “hm….tuhan kan ada dimana-mana”, dan berharap tuhan segera menyelamatkannya, atau disaat sedang membaca al-Qur’an, seorang pelajar yang kritis akan berkata “berdasarkan dalil Qur’an tuhan itu berada diatas arsy” sedangkan seorang yang sedang bimbang dan ber’uzalah guna mencari hidayah, mungkin ia akan merasa tuhan ada dihati kita, dan selalu memberi petunjuk disetiap langkahnya.

Baru-baru ini aku banyak menemukan, sebuah Tanya dari beberapa teman di fb pasca pementasan sebuah drama yang bertajuk “tanda Tanya”. Bertanya tentang tuhan dan keadilanNya, mulai menganalogikannya dengan abu tholib, muncul persepsi tentang toleransi dan pluralism yang berbeda, dan ketika MUI melarangnya, ada yang bertanya, bagaimana dengan film2 porno yang yang sudah banyak beredar lainnya? …, hmm.. semua itu adalah analogi2 dan persepsi yang tidak salah, karena sangat tergantung dari preferensi dan kondisi seorang hamba. Namun tanpa disadari sihir film ini cukup kuat mempengaruhi pandangan beberapa orang tentang agama yang dianutnya…,>_

Teringat kisah salah seorang sahabat Rasul yang ingin sekali belajar ilmu filsafat yunani, namun langsung ditentang oleh gurunya, sambil berkata “kuatkan dulu agamamu, baru kau boleh mempelajarinya”. Tidak akan nada asap tanpa ada api, mari kita mulai mencari aksiomanya. Toleransi adalah muthlak suatu kewajiban karena ia adalah sumber mashlahah dalam mu’amalah, bahkan Rasulullah banyak sekali memberikan kita contoh teladannya. Berbeda dengan ibadah Ia menuntut dalil qoth’iy untuk menjelaskannya, maka tak heran asal hukum ibadah adalah haram. Karena ia hanya boleh ditentukan dan dijelaskan oleh Qur’an dan hadist rasulNya. Sedangkan mu’amalah asal hukumnya adalah boleh, selama tidak melanggar asas-asas syar’I yang ditetapkan, maka dari itu tak heran bila ada yang berkata semua agama benar, karena semua mesti mengajarkan kebaikan dan semua manusia punya kesempatan untuk mempelajarinya, walaupun ia tak punya agama. Namun yang pasti tidak semua mengajari cara ibadah yang sama dan hukum mu’amalah yang benar-benar sempurna. Di sinilah letak indahnya Islam, dalam surat al-Maaidah ayat 3, Allah SWT sudah menjanjikan kesempurnaan dalam agamaNya, bahkan bersinpun diatur dalam kajian mu’amalahnya. Dalam bentuk ibadahnya, Islam menawarkan banyak sekali hikmah. Kenapa harus menghadap kiblat? kenapa harus 5 kali dalam sehari? Hubungan antara ikhwan dan akhwat? Atau bagaimana cara islam manaikkan derajat kaum wanita? Jawaban2 pertanyaan itu yang kerap membuat kita yakin bahwa skenario hidup yang paling indah adalah skenario Allah yang ia ajarkan melalui kitabNya.

Lalu bagaimana dengan orang-orang baik, banyak memberi manfaat bagi manusia, namun bukan seorang muslim? Sepertinya kisah abu Tholib adalah contoh yang paling tepat. Dalam hal ini yang bisa kita lakukan adalah memperkuat akidah dan keimanan kita, seorang muslim tentu percaya Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, itulah mengapa tokoh Tan Kat sun yang konghuchu dalam film “?” terlihat membaca buku Asmaul Husna beberapa saat sebelum ajalnya. Maka dari itu memperbaiki kemusliman kita rasanya cara yang paling tepat untuk menyelamatkan mereka, sambil berdo’a semoga kita bisa jadi alat perantara yang Allah gunakan untuk memberi hidayah bagi saudara-saudara kita lainnya. Tidak akan ada Islam tanpa rukun Islam dan Tidak akan ada Iman tanpa kelengkapan rukun Iman. Karena itu syariat yang sudah ditentukan. Dan keteladanan yang baik ada dalam perbuatan bukan cuma perkataan. Pendapat kita belum tentu benar, tapi pendapat Islamlah yang akan menyelamatkan.

Rasulullah adalah kekasih Allah. karena itu kita yakin, Manusia yang paling dekat dengan Allah adalah rasulullah. Kita tentu tak bisa menebak tangisan rasulullah ketika menyadari bahwa pamannya Abu Tholib meninggal dalam keadaan non muslim sebagai ungkapan yang menggugat. Karena Kita pasti tak bisa mengukur betapa sabar, ikhlas dan bijaksananya Rasulullah. Sama seperti Nabi Nuh yang “memaksa” Allah untuk menyelamatkan anaknya dari air bah, dan malah mendapatkan teguran dari Allah, lalu beliau segera sadar akan kekhilafannya. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un (semua yang menjadi milik Allah akan kembali pada Allah), akal, kecerdasan, jiwa dan raga kita adalah milikNya. Maka dari itu daya manusia sangat terbatas untuk menyibak tabir hikmahNya, itulah mengapa kita diajarkan untuk ikhtiar dan senantiasa bertawakkal.

Ada satu perkataan Romo dalam film “?” yang sangat aku sukai, “tidak ada penyesatan agama gara2 pementasan suatu drama, tapi penyesatan agama itu terjadi karena sebuah kebodohan”. Rasanya kita semua setuju, bahwa film berdurasi 2 jam, belum cukup bagi orang dewasa untuk menyimpulkan idealitas suatu agama. Selalu belajar dan bertadabbur adalah kunci utama. Kontroversi memang sebuah sensasi yang kerap mengundang diskusi, termasuk film ini. Maka perdebatan dalam diskusi sangat indah bila dibarengi dengan niat untuk saling berbagi, bukan hanya sekedar aktualisasi ego dalam diri. Seperti jawaban pilihan berganda diatas, menyadari bahwa tiap orang punya preferensi yang berbeda mungkin bisa menjadi landasan untuk memupuk ukhuwah dan memperluas cakrawala keilmuan. Karena memang tidak ada larangan dalam diskusi, tapi perpecahan yang timbul karenanya tentu harus kita hindari.

Wallahua’lam bisshawwab…..

18 April 2011, Sebuah Catatan Untuk Hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s